Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Ia bukan sekadar kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW melintasi ruang dan waktu, melainkan peristiwa spiritual yang menguji keimanan, membentuk ketundukan, dan melahirkan kewajiban utama umat Islam: shalat.
Peristiwa ini terjadi pada masa yang sangat berat bagi Rasulullah SAW. Setelah kehilangan istri tercinta Khadijah RA dan paman beliau Abu Thalib, serta menghadapi penolakan keras dari kaum Quraisy, Rasulullah berada dalam fase ujian yang luar biasa. Justru di saat itulah Allah SWT memperjalankan beliau dalam Isra dan Mi’raj—seolah menegaskan bahwa pertolongan Allah sering datang setelah puncak kesabaran.
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa iman tidak selalu berjalan lurus dan mudah. Ia diuji, diguncang, bahkan dipertanyakan. Sebagian kaum Quraisy menertawakan peristiwa ini, dan sebagian orang yang lemah imannya justru mundur. Namun Abu Bakar Ash-Shiddiq RA berdiri dengan keyakinan penuh, berkata, “Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu benar.” Dari sinilah kita belajar bahwa iman sejati bukan tentang memahami segalanya, tetapi mempercayai Allah sepenuhnya.
Puncak dari Isra Mi’raj bukanlah perjalanan fisik, melainkan perintah shalat. Tidak seperti ibadah lain yang diturunkan melalui perantara, shalat diberikan langsung kepada Rasulullah SAW. Ini menunjukkan bahwa shalat adalah poros kehidupan seorang Muslim. Jika shalat rusak, maka rusaklah hubungan manusia dengan Tuhannya.
Ironisnya, banyak umat Islam memperingati Isra Mi’raj setiap tahun, tetapi shalat masih sering ditunda, disepelekan, bahkan ditinggalkan. Di sinilah Isra Mi’raj menantang kita secara jujur:
Apakah kita hanya mengagumi kisahnya, atau benar-benar mengamalkan pesannya?
Isra Mi’raj juga mengajarkan bahwa kedekatan kepada Allah tidak diukur dari sejauh mana seseorang “melihat keajaiban”, tetapi sejauh mana ia taat dalam ibadah yang konsisten. Shalat lima waktu mungkin terlihat sederhana, namun di situlah kualitas iman seseorang diuji setiap hari.
Akhirnya, peringatan Isra Mi’raj seharusnya menjadi momentum refleksi. Bukan hanya untuk mengenang peristiwa besar, tetapi untuk memperbaiki shalat, meneguhkan iman, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Karena hakikat Isra Mi’raj bukanlah tentang perjalanan ke langit, melainkan bagaimana hati manusia kembali kepada Tuhannya.